Selasa, 18 Oktober 2022
Pandangan Umar (54), warga Desa trenggalek
kecamatan panggul Jawa Timur, menyapu deretan nama yang dipasang di masjid RW
18.
Ke-43 nama itu merupakan daftar nama korban
longsor yang terjadi pada hari Selasa 18 Oktober. Ia menemukan nama istrinya,
Enyi (50), dalam daftar itu di urutan ke-11 dan belum dilingkari. ”Itu berarti
jenazah istri saya belum ditemukan dalam timbunan longsor,” ucap Umar lirih dan
parau.
Papan nama yang dipasang di masjid kecamatan
panggul, menjadi rujukan warga yang mencari tahu nasib sanak saudara mereka. Di
dalam masjid, jenazah yang sudah ditemukan disemayamkan sementara untuk
kemudian dibawa keluar menggunakan ambulans.
Umar tampak terpukul sekali oleh musibah
longsor tersebut. Ia kehilangan belahan hidupnya dalam sekejap saat retakan di
bukit ambruk dan menimbun 37 rumah yang dihuni pekerja perkebunan sayuran milik
warga. Yang membuatnya lebih tertekan, ia menyaksikan sendiri saat-saat
terakhir lumpur meluluhlantakkan perumahan pekerja, salah satunya adalah yang
ditinggali istrinya.
Bapak enam anak ini pun mengisahkan, ia berada
50 meter dari lokasi saat longsor terjadi pada pukul 14.00. Disertai bunyi
dentuman, dia melihat lereng bukit terkupas dan merosot jatuh mendekati
permukiman yang aman. Saat itu, longsoran belum mengenai permukiman warga.
Umar dan beberapa karyawan lain yang melihat
hal ini segera berteriak memperingatkan warga yang ada di permukiman untuk
segera menghindar. Dari kejauhan, ia melihat istrinya sempat keluar rumah,
tetapi kemudian masuk kembali. ”Belum sampai 15 menit setelah longsoran
pertama, terjadi longsoran yang lebih besar yang menimbun seluruh permukiman,”
ujar Umar murung.
Tidak tanggung-tanggung, lumpur dengan
ketebalan lebih dari tiga meter langsung menimbun permukiman itu hingga
mencapai atap. Sebanyak 21 rumah warga, lima bangunan milik kantor perkebunan,
dan satu masjid hancur. Lumpur juga memutuskan jaringan listrik ke Kampung
panggul
Namun, setidaknya Umar masih bisa bernapas
lega. Anaknya paling bungsu, Novita Sri Rahayu (8), selamat dari longsor. Anita
saat itu tengah bersekolah di lokasi yang berjauhan dengan permukiman penduduk
sehingga terhindar dari maut.
Sayangnya, kebahagiaan yang sama tidak bisa
dirasakan Administratur Perkebunan sayur yang sangat besar di wilayah panggul
tersebut, Irvansyah. Anaknya, Alfart (3), menjadi korban karena sedang berada
di rumah bersama pengasuhnya, Ida (35). Keduanya hingga kini belum ditemukan.
Kesedihan juga dirasakan Anton Sutisna (39),
Ketua RT 08 RW 18, Desa Tenjolaya. Lelaki yang sudah 27 tahun bekerja di
Perkebunan sayur itu kehilangan dua anggota keluarganya, yakni keponakannya,
Nana (26), dan ibunya, Mak Endang (60). Ia juga menyaksikan sendiri rumah
ibunya tertimbun longsor. Saat itu, Anton baru saja hendak berangkat ke lokasi
perkebunan.
Sejak Selasa malam, Anton mencari keponakan
dan ibunya. Baru Rabu, sekitar pukul 10.00, Neni ditemukan. Kelegaan dan
kesedihan mendalam terpancar dari wajah Anton.
Setelah bapaknya meninggal, Anton adalah
kepala keluarga. Rabu siang itu juga, Anton mengantarkan jenazah Neni kepada
orangtuanya. ”Bapak-ibunya sudah menunggu”.
Setelah Nana, Anton masih harus mencari
keberadaan ibunya, hidup atau mati. Meskipun kesempatan hidup semakin menipis karena
sudah dua malam tertimbun, Anton tidak patah arang. ”Saya harus tetap menemukan
emak…,” tuturnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar